Melihat Pola Asuh Anak Dari Suku-Suku Terpencil Di Dunia

1146

(foto: google)

 

Ratusan bahkan ribuan suku di dunia tentunya memiliki pola asuh anaknya sendiri. Nah, kalau pada suku-suku terpencil di dunia, kayak apa sih pola asuh mereka?

Untuk mengetahui hal ini, Jimmy Nelson seorang jurnalis foto asal Inggris selama 28 tahun mendokumentasikan 35 suku terpencil di dunia dan membuat proyek 'Before They Pass Away'. Suku-suku tersebut antara lain Maasai (Tanzania), Chukchi (Siberia), Mustang (Nepal), Mursi (Ethiopia), Kalam (Papua Nugini), dan Himba (Namibia).

"Saya banyak belajar dari berbagai suku yang ia teliti. Salah satunya adalah tentang pola asuh anak-anak mereka," kata Jimmy, dikutip dari Mama Hub. Nah, ini dia pola asuh yang diterapkan suku-suku terpencil di dunia berdasarkan observasi dan penelitian Jimmy:

1. ASI adalah Makanan Terbaik Bayi

Selama penelitiannya, Jimmy mengaku bahwa semua anak-anak di seluruh suku yang ia teliti minum ASI sebagai makanannya. Kata Jimmy, ASI membuat anak-anak mereka tumbuh dengan sehat. Bahkan di beberapa suku, mereka menyusui anaknya hingga usia 4-5 tahun. 

"Bagi mereka, ASI adalah makanan paling sehat, bersih dan membangun daya tahan tubuh. Dan nggak ada waktu yang diatur kapan harus menyusu, kapan tidak. Mereka menyusu tiap sedang lapar," ujar Jimmy.

Ya, menurut Dr dr Ariani Dewi Widodo SpA(K) dari RSAB Harapan Kita Jakarta, ASI adalah makanan terbaik karena sudah pasti steril dari kuman selama ibu sehat. Menyusui juga nggak boleh setengah-setengah karena anak-anak nantinya malah nggak mendapatkan esensi gizi yang penuh dari ASI. Namun perlu diingat juga Bun, pemberian ASI eksklusif tetap 6 bulan dan setelahnya didampingi dengan MPASI ya.

2. Bayi Nggak 'Ditinggal' Sendirian

Nggak sedikit orang tua meninggalkan bayinya sendirian bermain ketika mereka sedang melakukan aktivitas lainnya di rumah. Nah, semua suku yang diteliti Jimmy nggak pernah meninggalkan bayi-bayi mereka sendirian. Meskipun anaknya nggak merengek minta gendong pun orang tua tetap berada di sisinya.

"Walaupun mereka, para ibu di suku-suku tersebut sedang mengerjakan sesuatu, mereka tetap menggendong dan membawa anaknya ke mana-mana. Jadi bayi mereka tidak pernah merasakan kesepian," kata Jimmy.

3. Bayi Menyusu Sesuai Keinginannya

Saat meneliti, jarang sekali Jimmy mendengar tangisan bayi. Ternyata rahasianya adalah bayi-bayi tersebut selalu kenyang. Bayi menyusu kapan pun yang ia mau. Tanpa ditakar dan tanpa diatur waktunya. 

Para bayi itu telah belajar tentang kepuasan. Ini senada dengan kata Dr dr Tan Shot Yen MKes, anak-anak yang disusui langsung cenderung akan bisa belajar tentang kepuasan dibandingkan yang lewat botol susu. 

4. Co-sleeping dengan Anak

Saat waktu tidur, semua ibu-ibu dari berbagai suku yang diteliti Jimmy melakukan co-sleeping alias menemani anak mereka sampai tidur. Iya, bukan cuma bayi aja, sampai anak-anak pun mereka temani tidur. Co-sleeping yang mereka lakukan bisa dengan memeluk, memberikan tangan untuk dipegang. 

Tentunya manfaat co-sleeping ini untuk menghangatkan tubuh anak saat cuaca dingin, lalu membuat anak merasa aman dan nyaman. Tapi, gimana ya kalau ibu dan anaknya tidur di ranjang berbeda tapi masih satu ruangan?

"Pemisahan tempat tidur bayi namun di ruangan yang sama dengan ibu tetap disebut co-sleeping. Namun namanya lebih spesifik lagi yakni separate-surface co-sleeping. Co-sleeping juga bisa membantu menstabilkan pernapasan bayi," kata James McKeena, profesor Antropologi di University of Notredame, Belanda dan direktur laboratorium Mother and Baby Sleeping Behavior dikutip dari The Bump.

5. Berbagi Info Tentang Pola Asuh Anak

Masih banyak di dunia ini, orang tua yang sering mengeluh tentang anaknya tapi nggak mau berkonsultasi ke seseorang yang ahli atau berpengalaman. Padahal konsultasi dan bertukar informasi tentang pola asuh misalnya dengan ikut kelas parenting nggak ada salahnya lho.

Jimmy memperhatikan bahwa selama merawat anak, ibu-ibu di suku yang diteliti cenderung saling bertukar informasi tentang kemajuan pertumbuhan anak mereka. Bukan cuma ke sesama orang tua, tapi juga ke seluruh komunitas suku. Dengan begitu, mereka tentunya akan mendapat wejangan serta bantuan dalam mengasuh anaknya.

 

Source: haibunda.com

   FACEBOOK    TWITTER


Berita Terkait
pilihan editor
berita terpanas